WISATA RELIGI SUNAN BONANG TUBAN Jejak Dakwah Sang Wali di Bumi Ronggolawe
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sahabat Pariwisata Halal, perjalanan kali ini membawa kita menuju salah satu kota yang memiliki jejak panjang dalam sejarah perkembangan Islam di pesisir utara Pulau Jawa. Inilah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sebuah daerah yang sejak lama dikenal dengan sebutan Kota Wali. Di tengah denyut kehidupan Kota Tuban, tidak jauh dari Alun-Alun dan Masjid Agung Tuban, terdapat sebuah tempat yang hampir tidak pernah sepi dari kedatangan peziarah. Tempat tersebut adalah Makam Sunan Bonang, salah satu destinasi wisata religi paling terkenal di Jawa Timur.
Makam Sunan Bonang berada di kawasan Kauman, Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban. Lokasinya sangat strategis karena berada di pusat kota, di sebelah barat Masjid Agung Tuban dan sekitar 100 meter dari kawasan Alun-Alun Tuban. Kedekatan antara makam, masjid, pusat kota, dan kawasan perdagangan membuat perjalanan ziarah ke tempat ini memiliki suasana yang khas. Peziarah tidak hanya datang untuk mengenang seorang tokoh besar, tetapi juga dapat menyaksikan bagaimana warisan sejarah Islam tetap hidup berdampingan dengan aktivitas masyarakat Tuban hingga sekarang.
Sunan Bonang memiliki nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Beliau merupakan putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila dan menjadi salah satu tokoh utama dalam jajaran Wali Songo, para ulama yang mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Sumber Balai Pelestarian Kebudayaan menyebutkan bahwa Sunan Bonang diperkirakan lahir sekitar tahun 1465 Masehi dan wafat sekitar tahun 1525 Masehi.
Sunan Bonang dikenal bukan hanya sebagai seorang ulama dan pendakwah, tetapi juga sebagai tokoh yang mampu memahami kebudayaan masyarakat pada zamannya. Dakwah Islam disampaikan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk melalui seni dan sastra Jawa. Pemerintah Kabupaten Tuban mencatat bahwa metode dakwah Sunan Bonang antara lain memanfaatkan pewayangan dan syair Jawa. Pendekatan budaya seperti inilah yang membuat dakwah Islam dapat diterima secara lebih komunikatif oleh masyarakat.
Jejak dakwah tersebut memberikan pelajaran penting bahwa penyampaian nilai-nilai agama tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang kaku. Sunan Bonang menunjukkan bagaimana agama, budaya, pendidikan, dan kehidupan sosial dapat dipertemukan melalui pendekatan yang bijaksana. Karena itu, berziarah ke makam Sunan Bonang bukan hanya perjalanan untuk mengunjungi makam seorang wali, tetapi juga perjalanan untuk mengenal salah satu bagian penting dari sejarah perkembangan Islam Nusantara.
Ketika memasuki kawasan Makam Sunan Bonang, suasana religius mulai terasa. Salah satu karakter menarik dari kompleks ini adalah keberadaan sejumlah gapura. Informasi pariwisata Pemerintah Kabupaten Tuban mencatat adanya tiga gapura, dengan gapura pertama berbentuk regol serta gapura kedua dan ketiga berbentuk paduraksa. Unsur arsitektur tersebut memperlihatkan jejak pertemuan antara tradisi arsitektur lama dengan perkembangan kebudayaan Islam di Jawa.
Pada bagian gapura juga dapat ditemukan hiasan piring porselen dengan motif bunga dan tulisan Arab. Sejumlah ornamen bahkan memuat nama empat khalifah, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Detail-detail seperti ini menjadikan kompleks Makam Sunan Bonang bukan sekadar ruang ziarah, melainkan juga ruang sejarah yang menyimpan warisan seni dan budaya dari masa lalu.
Di dalam kawasan tersebut terdapat pula Masjid Astana Sunan Bonang Tuban. Keberadaan masjid semakin memperkuat karakter kawasan ini sebagai destinasi wisata religi. Peziarah dapat melaksanakan ibadah, beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan menuju area makam. Suasana spiritual terasa semakin kuat ketika terdengar lantunan ayat-ayat Al-Qur'an, tahlil, zikir, dan doa dari para peziarah yang datang silih berganti.
Menuju cungkup makam Sunan Bonang, pengunjung akan melewati kawasan pemakaman dan jalan yang telah dilengkapi petunjuk menuju makam utama. Cungkup makam berada pada bagian yang lebih rendah dan dapat dicapai melalui tangga batu serta pintu kayu. Di sinilah para peziarah biasanya duduk dengan tertib, membaca Al-Qur'an, tahlil, shalawat, dan memanjatkan doa kepada Allah SWT sembari mengenang perjuangan dakwah Sunan Bonang.
Bagi seorang Muslim, ziarah seperti ini tentu memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar perjalanan wisata. Makam bukanlah tujuan untuk meminta sesuatu kepada orang yang telah wafat. Ziarah menjadi momentum untuk mendoakan para pendahulu, mengingat kematian, mengambil pelajaran dari perjalanan hidup para ulama, serta menumbuhkan kembali semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Menariknya, kawasan ini juga menyimpan sejumlah peninggalan lain. Di sekitar makam terdapat bangunan-bangunan pendopo yang dikaitkan dengan aktivitas pendidikan dan syiar pada masa Sunan Bonang. Pemerintah Kabupaten Tuban juga mencatat keberadaan beberapa peninggalan seperti tempayan, pipisan, peti batu, serta unsur-unsur arsitektur dengan motif hias tertentu. Semua itu semakin memperkuat nilai kawasan ini sebagai ruang pertemuan antara wisata religi, sejarah, dan kebudayaan.
Besarnya pengaruh Sunan Bonang juga dapat dirasakan dari tingginya jumlah masyarakat yang datang berziarah. Data Pemerintah Kabupaten Tuban menunjukkan bahwa Makam Sunan Bonang menerima sekitar 2,19 juta kunjungan wisatawan nusantara pada tahun 2024, menjadikannya salah satu destinasi wisata dengan jumlah kunjungan terbesar di Kabupaten Tuban. Pada waktu-waktu tertentu, terutama menjelang Ramadan dan pada momentum keagamaan, kawasan makam menjadi semakin ramai oleh rombongan peziarah dari berbagai daerah.
Selepas berziarah, pengunjung juga dapat menikmati suasana khas pusat Kota Tuban. Di sekitar kompleks makam terdapat pedagang yang menawarkan berbagai makanan, pakaian, suvenir, serta oleh-oleh khas. Kehadiran aktivitas ekonomi masyarakat tersebut menunjukkan bahwa wisata religi tidak hanya memiliki dimensi spiritual dan budaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat di sekitar destinasi.
Dari perspektif pariwisata halal, kawasan Sunan Bonang memiliki daya tarik yang sangat kuat. Aktivitas utama berupa ziarah dan wisata sejarah Islam didukung oleh keberadaan tempat ibadah serta fasilitas dasar bagi pengunjung. Informasi resmi pariwisata Kabupaten Tuban mencantumkan fasilitas berupa masjid, toilet, area suvenir dan oleh-oleh, serta tidak memberlakukan tiket masuk ke makam.
Lokasinya yang berada di jantung Kota Tuban juga memberikan keuntungan tersendiri. Peziarah dapat melanjutkan perjalanan menuju The Great Mosque Of Tuban yang berada sangat dekat dengan kompleks makam, menikmati suasana Alun-Alun Tuban, berbelanja oleh-oleh, atau melanjutkan perjalanan wisata religi menuju berbagai situs Islam lainnya yang tersebar di Kabupaten Tuban.
Tuban memang layak menyandang identitas sebagai salah satu kota penting dalam perjalanan wisata religi di Jawa Timur. Pemerintah Kabupaten Tuban sendiri menyebut daerah ini sebagai Kota Wali, karena memiliki sejarah yang erat dengan perkembangan dan penyebaran Islam. Selain Makam Sunan Bonang, Tuban juga memiliki sejumlah makam tokoh penyebar Islam lainnya yang sampai sekarang tetap ramai dikunjungi masyarakat.
Namun, perjalanan menuju Makam Sunan Bonang mengajarkan kepada kita bahwa wisata religi sesungguhnya bukan hanya persoalan tentang ke mana kita pergi, tetapi juga tentang apa yang kita bawa pulang dari perjalanan tersebut.
Dari Sunan Bonang kita dapat belajar tentang dakwah yang santun, kemampuan memahami budaya masyarakat, pentingnya ilmu pengetahuan, serta kebijaksanaan dalam menyampaikan nilai-nilai Islam. Berabad-abad setelah beliau wafat, jejak perjuangannya masih dikenang, makamnya masih diziarahi, dan namanya masih hidup dalam ingatan masyarakat Nusantara.
Di tengah perkembangan pariwisata modern, Makam Sunan Bonang menjadi pengingat bahwa sebuah perjalanan dapat menghadirkan lebih dari sekadar pemandangan. Ada sejarah yang dapat dipelajari, ada budaya yang harus dijaga, ada nilai spiritual yang dapat direnungkan, dan ada keteladanan yang dapat dibawa pulang.
Sahabat Pariwisata Halal, demikian perjalanan kita menelusuri wisata religi Makam Sunan Bonang di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Semoga perjalanan ini tidak hanya menambah pengetahuan tentang sejarah Wali Songo, tetapi juga menumbuhkan kecintaan kita terhadap warisan Islam Nusantara serta memberikan inspirasi untuk terus menjaga dan melestarikannya bagi generasi mendatang.
Karena pada akhirnya, perjalanan terbaik bukan hanya perjalanan yang membawa kaki kita menuju sebuah tempat, tetapi perjalanan yang mampu membawa hati kita menjadi lebih dekat kepada Allah SWT.
Saya Muhammad Nizar, dan Anda sedang menyaksikan Pariwisata Halal oleh Muhammad Nizar Channel.
Mari terus menjelajahi keindahan Indonesia, mengenal sejarahnya, menikmati budayanya, menjaga adab dalam perjalanan, serta menemukan nilai-nilai kebaikan di setiap destinasi.
Sampai bertemu pada perjalanan wisata halal berikutnya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.